Surat dari Nanyang
Matahari tak terik, namun udara terasa panas. Udara di Nanyang ini lembab juga untuk ukuran Asia Tenggara. Curah hujan tak terlalu tinggi, jauh di bawah Bogor, Malang atau Purwokerto di pulau Jawa sana. Minggu pagi ini tak ada yang istimewa. Orang-orang disekitar apartement tempat saya tinggal lebih suka piknik atau ngendon dirumah. Social life begitu sulit ditemukan. Manusia masing-masing mempunyai dunianya sendiri. Di kantor, di apartement, di mall, di tempat makan, di ruang mayanya masing-masing. Selebihnya sepi. Sabtu-Minggu di kompleks kampus memang menyiksa.
Mungkin saya salah. Mungkin saya over-assumption. Anggap saja ini buah dari perasaaan sepi selama dua minggu terakhir. Tetangga sebelah rumah tak pernah saya lihat sekalipun batang hidungnya. Kami mungkin hanya saling mendengar bunyi lift terbuka dan pintu berderit. Tanda penghuni rumah mau pergi atau sudah datang. Ini tentu bukan hal besar bagi negeri kartel macam Singapura. Repotnya, sebagai manusia sosial saya kan juga harus bersosialisasi. Untunglah ada fasilitas internet, sehingga kebutuhan ngobrol terpenuhi. Juga blog, dimana unek-unek menemukan tempatnya. Ini bukan kritik individualisme. Bukan pula kritik kebijakan. Hanya ocehan ringan, buat sendiri dan para pembaca yang budiman (ocehan kok buat pembaca...yang benar saja!)
Tapi itu tak soal benar, karena tiap pagi hari kerja ada hiburan dari kicau burung jalak --liar- dan semarak manusia memulai aktifitas. Mesin mobil dipanaskan, orang-orang bergegas kerja; entah mengajar atau untuk belajar, orang ramai menunggu school bus gratisan di halte, sebagian berlarian karena terlambat. Menghibur, karena jumlahnya orang yang saya perhatikan sedikit. Bandingkan dengan jam masuk kerja di Jakarta yang bukannya menghibur, tapi malah bikin pening.
Disini juga lebih beragam. Chinese memang dominan, tapi ada India, Melayu dan bule yang --sekaligus- menandai ada komunitas internasional disini. Mereka bahkan punya international house, yang berupa cafe dan semacam guest house. Semarak bangsa inilah yang memajukan Singapura. Slogan mereka "Majulah Singapura" mengedepankan sinergi dari empat aspek dasar yang membentuknya; Cina, Melayu, India dan Eropa. Kita tahu Inggris menjajah bangsa ini jauh sebelum perang dunia I. Hingga kemudian Singapura bisa lepas dari dominasi Malaysian Peninsular dan berdiri sendiri, bahkan kini sejajar dengan induknya, Malaysia, pada paruh 1960an.
Saya kutipkan, kapan persisnya Singapura merdeka;
"Singapore was separated from the rest of Malaysia on 9 August 1965, and became a sovereign, democratic and independent nation. Independent Singapore was admitted to the United Nations on 21 September 1965, and became a member of the Common wealth of Nations on 15 October 1965. On 22 December 1965, it became a republic, with Yusof bin Ishak as the republic's first President."
Tak lama kemudian mereka melesat bagai anak panah yang tak lagi rindu busurnya. Singapura mampu merombak total konsep kebangsaan mereka dengan semangat demi kemajuan. Tehnologi, tata kota, gegap gempita industri, konsep pariwisata, sektor jasa, pendeknya apa saja yang bisa menghasilkan uang dan memakmurkan seluruh warga negara mereka kerjakan. Mereka menjadikan English as second language, bukan semata-mata karena mereka dulu dijajah Inggris, tapi demi menyiapkan diri menjadi pemain yang mumpuni dalam percaturan dunia. Hasilnya fantastis, 80 % penduduknya melek English. Sisanya, yang 20 % itu ternyata didominasi senior citizen, alias orang tua yang memang secara budaya masih keukeuh ngomong mandarin, dan menulis dalam aksara Cina. Danjumlah yang lebih kecil lagi, yang diwakili imigran dari Indonesia, India, Bangladesh, dan sebagian kecil Afrika.
Dari sini sudah bisa ditebak, Singapore ingin jadi 'pemain' internasional. Bukan cuma pemain kacangan kelas Asia. Cita-cita ini diejawantahkan, -salah satunya-, melalui jargon pendidikan NTU (Nanyang Technological University), "to educate Singapore(an) become Asian leader and beyond."
Kalau ini terbukti, Indonesia pasti akan terengah-engah ketinggalan jauh dibelakang. Apa pasal? Tengok saja, dari jargon saja kita kalah jauh, apalagi konsep dan sistem pendidikan. Bukan bermaksud sarkastis, tapi olok-olok ini mungkin bisa jadi pemicu spirit introspeksi. Kampus di Indonesia banyak yang membaptis diri sebagai "Kampus Perjuangan," "Kampus Reformasi," dan "Kampus Anti-Kemapanan," untuk sekedar menyebut satu-dua. Masih banyak pula slogan aneh lainnya, "Kampus orang berdasi," "Kampus calon pengusaha sukses," "Kampus bagi mahasiswa berakhlak soleh dan berilmu tinggi." Aduh... negara lain mencetak pemimpin, masih ada pula kampus yang "mencetak" akhlak. Mohon maaf jika terkesan melecehkan. Tapi umpamanya kita sedang dalam lomba triathlon, maka Indonesia masih harus menyelesaikan renangnya dulu, padahal negara lain sudah mulai genjot sepeda. Itupun, kita berenang dengan gaya batu. Alias nyemplung...plung... atau byur...lantas tenggelam. Alamak...ngomong bangsa sendiri dengan olok-olok memang tak akan pernah habis. Capek dan bikin nasionalisme kita makin sempit...Dalam arti, kita hendaknya membiasakan diri untuk punya wawasan kebangsaan yang konstruktif, namuan seringkali merasa harus membela bangsa sendiri dengan pola membabi-buta. Itulah kenapa olok-olok ini jadi penting.
Tapi tak baik juga rasanya. Dari kisah ihwal sepi hati, menyeberang ke pendidikan. Ora elok kalau orang Jawa bilang. Ora patut kalau mbak Tutut bilang ...
Ini bukan kritik nasionalism. Bukan pula upaya mengumbar borok bangsa sendiri.
Ini semata-mata karena kawasan pemukiman yang kelewat sepi. Pun derita perut yang sudah 2 hari tak terisi nasi ... Kelak, dalam minggu-minggu berikutnya, tiap Sabtu-Minggu saya memang ditakdirkan untuk tak makan nasi...ampun deh.
tabik
ta 04.03.2006
No comments:
Post a Comment