Friday, March 31, 2006

Jurnalis Dalam Kepungan Nilai-Nilai

Jurnalis dalam Kepungan Nilai-nilai
Oleh Taufik Andrie

Gelombang Tsunami di Aceh dan sebagian Sumatra Utara pada 26Desember 2004 lalu telah surut jauh-jauh hari. Evakuasi hampir usai.Penanganan pengungsi tengah menuju titik keteraturan yang makinrapih. Demikian juga proses recovery, baik psikologis maupunfisiologis, yang naga-naganya mulai menemukan format yang tepat.Tinggal fase rekonstruksi yang pasti bakal menguras biaya dantenaga. Sepintas tak ada lagi yang perlu dikuatirkan.Namun kisah tentang Aceh belum habis. Hari-hari belakangan ini masihtersisa perdebatan ihwal foto jurnalistik karya Bedu Saini, wartawanharian Serambi Indonesia di Banda Aceh. Perdebatan bernuansa pro-kontra yang akan membuat kita takjub sekaligus mengelus dada.Profesionalisme vs humanismeSyahdan, pada 26 Desember yang nahas itu Bedu Saini tengah diombang-ambing dalam dilema. Dua keputusan penting menantinya, tepat saatarus deras Tsunami menerjang. Mulanya ia mendengar riuh rendahkerumunan orang-orang yang berteriak histeris di kawasan SimpangLima Banda Aceh. Naluri jurnalistiknya bekerja. Dengan sigap BeduSaini memanggul kamera dan menghidupkan motor. Air bah memang belummeluber sampai di lingkungan rumahnya. Selesai memotret ia baruteringat anak istrinya. Sayang ia terlambat. Dua anaknya tak mampumenahan laju Tsunami.Pilihan yang dihadapi Bedu Saini memang bersifat diametral; menolongatau memotret. Sebagai ayah, ia harus menolong keluarganya yangtengah berjuang melawan derasnya pusaran air. Sedang sebagaiwartawan, ia harus memotret, untuk mengabarkan pada dunia betapaganasnya gelombang Tsunami yang diakibatkan gempa yang berpusat diperut laut itu. Posisi Bedu Saini yang dilematis ini dikategorikanTriyono Lukmantoro dalam tindak profesional jurnalis yang takhumanis (Suara Merdeka, 4 Februari 2005). Predikat yang mungkin akanjadi beban bagi Bedu Saini hingga sisa usianya. Meski dengan arif,Lukmantoro mencoba menawarkan jalan tengah melalui konsep primafacie (William David Ross), atau semacam kewajiban bertingkat yangberurutan selaras dengan prioritas.Jika dirumuskan dalam ranah praksis maka hendaknya Bedu Sainimenolong anaknya dulu baru memotret. Namun apa lacur, Bedu Sainimemilih memotret. Karya foto jurnalistiknya dipuji orang banyak,sedang sikapnya sebagai ayah dicerca banyak kalangan. Akibatnyajelas, stigma sebagai "wartawan profesional yang tak humanis"melekat pada dirinya.Lantas, seperti apa baiknya memeriksa kasus ini dalam kacamata etikajurnalisme. Ada dua hal yang, lagi-lagi, mengemuka saat kitamemperdebatkan dua diktum klasik dalam fotografi jurnalistik;menolong dulu atau memotret dulu. Mana yang harus didahulukan?Rumusan pertama menyatakan, bahwa sebelum jadi wartawan, Bedu Sainiadalah manusia. Meminjam Sirikit Syah dalam "Wartawan: Menolong atauMemotret?" (Pantau, Maret 2002, hal 52), maka seyogiyanya Bedu Sainimenganut kredo be a good man, than a good journalist. Sebab padadasarnya Bedu Saini ditakdirkan untuk jadi manusia dulu barusetelahnya berpredikat sebagai wartawan. Bahasan ini tentumengedepankan kaidah humanisme universal diatas segalanya.Rumusan kedua adalah rumusan yang mengedepankan ruh dan identitaskewartawanan diatas segenap predikat sosial, agama, etnis,kewarganegaraan maupun afiliasi politik. Bedu Saini memang seorangayah, tapi dengan kamera digenggaman, ia adalah seorang wartawan. Iamemang kehilangan kedua buah hati, yang sudah pasti sangatdicintainya. Tapi ia tak kehilangan kewajiban untuk memberikangambaran kepada umat manusia, bahwa Tsunami begitu ganas, tragedikdan patut diwaspadai di waktu-waktu mendatang.Laku profesionalisme yang dijalaninya secara argumentatif jugamenunjukkan semangat pengabdian pada publik yang lebih luas. Hakpublik atas informasi pula yang, saya kira, membuat Bedu Saini relabersusah-susah memotret. Bahkan terkesan mengabaikan keluarganyayang semula ia kira masih dalam kategori aman.Perdebatan klasikPerang batin yang klasik ini kerap dialami para wartawan yangbersinggungan dengan isu-isu perang dan konflik kemanusiaan. Sertatentu saja bencana. Masih ingat kisah Kevin Carter? Ia pemenanghadiah Pulitzer pada 1994 untuk fotonya ihwal gadis kecil di Sudanyang meringkuk kelaparan, dalam perjalanan menuju pusat bantuanpangan, dengan burung nazar yang siap mematuk dibelakang si gadiskecil.Foto Carter ini tentu memenuhi pelbagai kriteria yang ditentukanjuri. Setidaknya kriteria yang menggambarkan kekejaman perang dandishumanitas wilayah konflik.Karya ini dimuat di suratkabar New York Times. Entah kenapa, taklama setelah menerima Pulitzer, Carter bunuh diri dengan menghisapgas beracun. Sebagian kalangan menganggap Carter mengalami frustasiyang hebat akibat tuduhan yang menggangap Carter tak menolong gadiskecil dalam fotonya yang mashyur itu. Sebagian kawan yang lainmenganggap Carter memang sering mengalami masa sulit dan acap takbisa menyelesaikan permasalahannya sendiri.Hal yang sama pernah dialami James Nacthwey, fotografer perang yangterkenal dan tergabung dalam biro foto Seven, yang berkedudukan diParis. Paruh 1999, di kawasan Ketapang Jakarta Pusat terjadikerusuhan rasial. Nachtwey berada tepat ditengah-tengahnya saatmendengar kerumunan orang berteriak marah dan mengejar seorangpemuda (kebetulan dari etnis Ambon) yang tengah kepayahan danberdarah-darah. Mereka dari komunitas Betawi dan sebagian laskar FPI(Front Pembela Islam).Nacthwey merasa sedih tak bisa menolong. Sebab dia hampir takmungkin mengontrol emosi orang banyak yang telah mencapai titikdidihnya yang paling sempurna."Saya hanya punya beberapa detik untuk menolong atau memotret, sayatak bisa melakukan keduanya sekaligus. Akhirnya saya memilih untukmemotret, " demikian Nacthwey.Nacthwey mungkin salah sebagai manusia. Tapi jika apa yangdilakukannya dengan memotret bisa merubah keadaan, maka pilihan itutentu jauh lebih baik ketimbang upaya menolong yang bisa jadi hanyaberbuah niskala. Si pemuda memang benar-benar disembelih. Tapi hasiljepretan Nacthwey, paling tidak bisa membuat kawan-kawannya yanglain, yang –masih- berurusan dengan komunitas warga yang berang,bisa diselamatkan hukum.Harmoni antara etos dan humanitas Agaknya rumusan diskusi Kevin Carter dengan fotografer lainyang tergabung dalam The Bang Bang Club, suatu organisasi fotograferyang tengah meliput di wilayah konflik paska pembubaran pemerintahanApartheid di Afrika Selatan, patut dicontoh. Dalam salah satu kesepakatan disebutkan, bahwa jika merekabertemu dengan orang yang terluka, maka mereka punya 60 detik untukmemotret dan setelah itu baru menolong. Ini memang bukan ukuranmatematis, tapi ini bisa jadi acuan untuk memberi garis batas kapanharus memotret dan kapan harus menolong. Bagaimanapun, setelahmemotret jurnalis pasti akan menolong. Saya kira, nurani kemanusiaanjurnalis tak akan mudah tergadai hanya dengan melewatkan satu menitmemotret. Apalagi jika berhadapan dengan situasi krisis macam perangmaupun bencana. Saya kira, apa yang dilakukan Bedu Saini merupakan contohnyata laku jurnalis yang terhormat. Ia tak mengorbankan siapa-siapa.Tak juga humanisme. Ia memang harus memotret, karena keadaanmengharuskannya memotret. Beda soal jika misalnya air sudah menyerbulingkungan rumah tinggalnya dan ia memilih untuk berlarian sana-sini, guna mengambil sudut yang bagus untuk memotret.Sebab, meminjam diskusi Carter dalam The Bang Bang Club: SnapshotsFrom a Hidden War, jika hanya pewarta foto yang bisa menyelamatkanorang (yang terluka atau pantas ditolong) maka ia harusmenjadikannya prioritas. Pada titik inilah persinggungan antara etosfotografi jurnalistik dengan prima facie menemukan bentuknya yangideal. Menjadi jurnalis memang tak mudah. Tiap tindakan dankeputusannya mengandung segenap konsukensi. Kalau tak dipuji tentudikritik. Jika jurnalis menerima keduanya, maka pasti ada hal besaryang dipertimbangkan dan membuat publik memberikan penilaian ganda.Mengambil negasi dari kredo Sirikit Syah, "Everyone can be a goodman, but to be a good journalist it's a different matter."

Taufik Andrie, wartawan freelance, tinggal di Purwokerto.
Direktur Learning Institute, Lembaga Kajian Politik danKebudayaan.

No comments: